Telinga Kita Itu

Usai membasuh muka tentu berlanjut kebagian telinga atau kuping. Daun telinga dibersihkan dari debu dan kotoran yang menempel. Mari kita bertanya lagi, adakah di kesempatan lain selain ketika sedang mandi – kita pernah peduli dengan urusan telinga? Begitu hebatnya Islam, mengajarkan umatnya agar senantiasa peduli dengan telinga yaitu dengan diingatkan melalui jalan membersihkannya ketika sedang berwudhu.

Telinga, inilah organ yang secara sadar menjadi alat bagi setiap diri untuk bisa menjadi orang baik atau sebaiknya, jadi orang jahat atau yang senang bertingkah laku buruk. Dari telinga seseorang mendengar segala sesuatu, sehingga menjadi tahu akan sesuatu kebaikan atau keburukan. Bukankah ketika mendengar sesuatu seseorang karuan saja akan memberikan respon, yang responnya pun beragam pula.
Tatkala mendengar berita miring, karuan saja komentar pun akan bertambah-tambah untuk ’memperkaya’ berita miring itu. Ketika seorang lewat lisannya tengah menggunjingkan sesuatu, kontan orang yang mendengarkannya dihadapkan pada dua sikap: ikut serta dalam perunjingan atau tak peduli dan menghindar dari tema bergunjing itu.
Telinga atau kuping menjadi alat yang dapat mengantar seseorang itu menjadi baik atau sebaliknya. Mereka yang terbiasa mendengar sumpah-serapah atau perkataan yang bernuansa kotor tentu lama-kelamaan akan merasuk dalam dirinya sehingga ia pun boleh jadi akan melakukan hal serupa. Sebaiknya, ketika ia terbiasa mendengar sesuatu yang baik maka ia pun akan terpengaruh untuk meniru dalam meningkahi hidupnya.
Maka dibulan Ramadhan, yang menjadi momentum diturunkannya Al-Qur’an itu, kita disuruh banyak-banyak membacanya, menelaahnya, memahaminya, yang kemudian berujung pada konteks mengamalkannya. Kalau seseorang mendengar tema pergunjingan, boleh jadi ia tidak suka dan menjadi marah kepada si penggunjing itu; tetapi tidak ada seorang pun yang akan marah-marah ketika ia mendengar ayat-ayat Al-Qur’an dilantunkan dari bibir seseorang, apalagi jika dibaca dengan tartilan, syahdu, lembut, dan penuh kekhusyukan. Dapat dipastikan ornag yang mendengar lewat telinganya akan senang dan bahkan malah mengadirkan susana religi, untuk ia jadi teringat akan keberadaan dirinya.
Maka banyak-banyaklah membaca Al-Qur’an selagi ataun sesudah musim puasa Ramadhan ini, karena telinga yang membacanya dan yang mendengarnya akan terasa sejuk lalu ia terdiam untuk ta’zim dan berkhidmat diri.

Renungan Ramadhan

Berita Kota, 8/29/2009

Advertisement

One Response

  1. pakNUPTK guru Mi furqoniyah gandus
    tolong.
    keluarkan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.